Rabu, 27 Mei 2015

Belum setahun jualan cendol, Danu sudah kantongi Rp 3,5 miliar

0 komentar


Saat ini semua masyarakat memang harus cerdas dalam memanfaatkan setiap peluang jika ingin sukses dan survive dalam kehidupan. Mengandalkan gelar saja tentunya tidak bisa dilakukan tanpa adanya kreativitas lain yang bisa dilakukan. Inilah mungkin alasan mengapa saat ini banyak sekali anak muda yang coba menekuni dunia bisnis untuk jadi lebih sukses dan juga mengangkat derajat keluarga. Salah satunya adalah sosok Syaputra Kamandanu Sofwan atau biasa dikenal dengan Danu Sofwan.
Siapa sangka kalau pria kelahiran Tasikmalaya ini sekarang menjadi salah satu anak muda yang memiliki usaha yang sukses. Dan kerennya lagi Danu mencoba mengangkat minuman tradisional Indonesia yaitu cendol dalam usahanya.
"Saya nggak mau ngikutin tren yang sudah ada karena saya akan ketinggalan, akhirnya setelah observasi mencuatlah nama cendol yang ternyata belum banyak yang tahu kalau cendol masuk minuman terlezat di dunia. Akhirnya saya niat membuat cendol kembali dilirik oleh masyarakat lagi," cerita Danu pada brilio.net Senin (25/5).
Pemikiran Danu tentu saja bisa dibilang cemerlang. Sebab, selama 11 bulan usaha yang dinamai Randol (Radja Cendol) itu telah memiliki 520 outlet dengan total omzet dalam kurun waktu yang sama Rp 3,5 miliar atau sekitar Rp 310 juta per bulan.
Tapi tentu saja kesuksesan ini tidak didapat dengan mudah. Sebelum tahun 2014 Danu mulai bisnis cendol, dia pernah mencoba lebih dari 10 usaha lain yang ternyata tidak berjalan dengan baik, seperti berjualan pakaian, sepatu, parfum, dan lainnya. "Saya belajar usaha mulai 2008, kebetulan saya tulang punggung keluarga dan itulah kenapa saya harus survive. Dari 2008 juga saya dan keluarga bisa dibilang sangat susah dan ada di bawah banget. Usaha Randol ini sebenarnya modalnya berasal dari gadai barang dan pinjam uang yang itupun nggak mudah," lanjut anak ketiga dari empat bersaudara ini.
Pria berusia 27 tahun ini juga mengungkapkan bahwa tidak mudah baginya untuk mendapat pinjaman uang. Saat itu dia sudah mencoba meminjam uang ke lebih dari 100 orang dengan cara door to door, tapi tetap ada saja alasan dia tak mendapat pinjaman. Sampai akhirnya, atas usaha kerasnya dia berhasil mengumpulkan uang sebesar Rp 15.000.000 sebagai modal awal untuk membeli perlengkapan berjualan, menyewa outlet, sampai mematenkan nama usahanya. Dan tak disangka, pada hari pertama berjualan dia langsung bisa mengembalikan uang pinjamannya itu.
Danu sendiri mengaku bahwa dia sama sekali tidak memiliki basic bisnis dan tidak sempat kuliah karena uang kuliahnya waktu itu dia coba gunakan membuka usaha namun gagal. "Saya sempat masuk kuliah tapi uang saya putar, rencananya supaya bisa untuk membayar kuliah juga untuk makan keluarga. Tapi nggak taunya saya ketipu, waktu itu usaha sepatu dan uang saya dibawa kabur sama brokernya padahal saya sudah transfer full. Akhirnya saya nggak bisa kuliah dan mulai usaha kecil-kecilan," ungkap Danu. Meskipun tidak bisa melanjutkan kuliah, Danu mengaku sampai saat inipun dia selalu menyempatkan diri belajar selama dua jam setiap pagi agar ilmuanya terus bertambah.
Untuk timnya pun Danu lebih banyak mempekerjakan mereka yang merupakan lulusan SD dan SMP yang juga merupakan tulang punggung keluarga dan memiliki semangat tinggi untuk belajar. Karena baginya pendidikan tinggi tanpa adanya semangat tidak akan menghasilkan apapun.
Sementara, semangat ditambah dengan usaha keras dan berpikir cepat itulah kunci seseorang bisa sukses. Karena semua jenis usaha pasti ada proses naik-turun dan memang harus mau bergerak dan berpikir sebanyak-banyaknya.
Sumber : Brilio.net -
Continue reading ...

Selasa, 26 Mei 2015

Kisah Sukses: Dulu Dianggap Pengemis, Sekarang Bos

0 komentar
Kisah Sukses: Dulu Dianggap Pengemis, Sekarang Bos

Dianggap Pengemis Karena Keterbatasan Fisik

Keterbatasan fisik bukan penghalang meraih kesuksesan. Paling tidak itulah yang tercermin pada Sugimun, pemilik tiga unit toko elektronik “Cahaya Baru”
Suatu ketika Sugimun pergi ke solo untuk membeli mobil. Ketika akan masuk ke sebuah shoowroom mobil, seorang karyawan menghampirinya dan mengulurkan uang recehan kepadanya. Diperlakukan seperti itu Sugimun segera menukas, “Oh, saya bukan pengemis, Mas. Saya cari mobil.”
Tentu saja si karyawan tersebut kaget dan cepat-cepat masuk ke dalam sambil menanggung malu.
Menurut Sugimun, si karyawan mengira dirinya seorang pengemis karena menggunakan kursi roda, “Waktu itu sopir saya sudah duluan masuk show room,” kenang Sugimun tersenyum.
Lelaki yang lahir tahu 1970, di dusun Mojopuro, Magetan, Jawa Timur ini adalah pemillik toko elektronik “Cahaya Baru” di kota trenggalek dan Magetan, Jawa Timur.
Bagi orang Trenggalek , Magetan dan sekitarnya, nama toko itu sudah tidak asing lagi. “Cahaya Baru” dikenal sebagai toko elektronik yang cukup besar. Omsetnya sudah mencapai 150 juta per bulan.
Sugimun memberi nama tokonya dengan “Cahaya Baru”, dengan dimaksudkan untuk mewakili sebuah harapan harapan baru bagi diri dan keluarganya,
Keberhasilan Sugimun seperti sekarang tidak lepas dari usaha dan doa ibunya. Maklum, selain sejak kecil cacat, Sugimun juga lahir dari keluarga miskin. Saking miskinnya, ia tidak sempat mengenyam pendidikan formal. “Sekolah TK saja enggak pernah,” kenangnya.
Perubahan kehidupan Sugimun berawal pada usia 19 tahun. Ketika itu, seorang aparat desa beberapa orang dari Dinas Sosial  datang ke rumahnya. Mereka mengajak Sugimun mengikuti program penyantunan dan rehabilitasi sosial dan penyandang cacat di Panti Sosial Bina Daksa (PSDB) “Suryatama” di kota Bangil, Jawa Timur. Ditempat tersebut Sugimun mengikuti bimbingan fisik, mental, serta pendidikan kejar Paket A.
“Pada awalnya, saya merasa rendah diri karena semua teman saya penyandang cacat memiliki pendidikan formal mulai dari SD, SMP bahkan ada yang lulusan SMA,” kenangnya. Sedangkan dirinya belum mengenal baca tulis.
Namun karena tekadnya untuk bangkit dan tidak ingin bergantung pada orang lain, rasa rendah diri itu dibuangnya jauh-jauh. Di Suryatama, ia belajar keterampilan elektronik seperti radio, sound system, kipas angin, televise, dan lain sebagainya.” Katanya.
Setelah dua tahun mengikuti program pelatihan, Sugimun kembali pulang kampung. Namun ia tidak punya aktivitas di desanya. Akhirnya ia mencoba mencari kerja di tempat usaha servis elektronik. Sayangnya, kebanyakan berujung pada penolakan. “Mungkin mereka menilai saya tidak cukup mampu bekerja dengan baik karena kondisi fisik seperti ini,” kenangnya,
Yang menyedihkan, seringkali ia disangka pengemis saat melamar pekerjaan. Ia baru bisa bekerja tatkala seorang teman di Kediri menerimanya sebagai karyawan sebuah bengkel elektronik. Namun karena suatu alasan, tidak sampai satu tahun, ia memutuskan untuk pulang kampung.
Ia pun mencoba melamar pekerjaan di kota kelahirannya. Lagi-lagi ia kembali mendapatkan penolakan, “Hal ini membawa saya pada kesimpulan bahwa saya harus membuka lapangan pekerjaan untuk bisa bekerja,” katanya.

Berbekal Restu sang Ibu


Dengan kondisi ekonomi yang serba sulit serta pengalaman yang ditolak berkali-kali membuat Sugimun nekad berusaha sendiri. Berbekal restu sang ibu, tahun 1992 ia menjual perhiasan emas milik ibunya senilai Rp. 15.000,-. Uang tersebut sebagian ia pakai untuk menyewa lapak emperan pasar sayur Magetan. Di tempat yang kecil itu, ia membuka usaha jasa servis elektronik dan menjual isi korek api. Dengan perlengkapan seadanya, setiap hari ia melayani pelanggannya.
Untuk menjalankan usahanya, Sugimun harus berjuang keras. Betapa tidak, jarak perjalanan dari rumah ketempat usahanya sangatlah jauh. Dari desanya yang terpencil, ia harus berjuang menempuh jarak satu kilometer untuk menuju ke tempat mangkal angkutan umum yang akan membawanya ke kiosnya. Belum lagi jarak menuju pasar sayur. Ditambah lagi naik-turun angkutan umum. Bagi orang fisiknya normal, hal itu bukan masalah. Namun bagi Sugimun yang kakinya layuh (lumpuh) akibat polio, terasa berat.
Usahanya itu juga terkadang ramai, terkadang sepi. “Namun, saya tetap yakin Allah Maha Adil, Pengasih dan Pemurah,”katanya.
Dengan penuh ketelatenan dan kesungguhan, Sugimun berusaha meraih kepercayaan para pelanggan, terutama dalam menepati janji. Ia berusaha keras untuk menyelesaikan pekerjaan tepat waktu. Ia juga tidak pelit menjelaskan kepada pelanggannya tentang kerusakan dan onderdil yang harus dibutuhkan, termasuk harga dan kualitas onderdil yang bervariasi. “Ternyata dengan cara seperti itu kepercayaan bisa didapatkan,” katanya.
Kiosnya semakin sering dikunjungi orang. Berarti, kebutuhan akan onderdil elektronik juga meningkat.
Peluang inilah yang ia baca. Ia mulai menyisihkan uangnya untuk modal pembelian onderdil. sedikit demi sedikit ia juga melengkapi kiosnya dengan barang elektronik. Karena semakin lama barangnya kian banyak, akhirnya ia memberanikan diri membeli toko. “Alhamdulillah ramai,” jelasnya. Kini ia telah memiliki tiga unit toko.
Meski kini menjadi orang sukses, Sugimun tidak lupa terhadap keluarganya. Sebagai anak tertua dari delapan saudara, ia merasa bertanggung jawab atas eberlangsungan pendidikan adik-adiknya. Oleh karenanya, sebagian rezekinya ia gunakan untuk membantu biaya pendidikan tiga orang adiknya, ia mangajak mereka untuk membantu menjalankan toko elektroniknya. Ia berharap agar kelak, saudara-saudaranya yang lain mampu mandiri. “Saya bahagia bisa menyekolahkan ketiga adik saya hingga tamat SMU,” katanya.
Kebahagiaannya semakin lengkap ketika ia menemukan jodohnya bernama Nursiam. Perempuan yang ia nikahi itu kini memberinya tiga orang anak.
Selain itu, Sugimun juga membantu orang-orang di daerah sekitarnya. Ia tidak membantu dalam bentuk uang, melainkan berupa pemberian kesempatan pendidikan dan keterampilan. Ia membina beberapa yatim dan anak cacat agar memiliki berbagai keterampilan yang berguna bagi masa depan mereka kelak.
“Pengalaman masa lalu membuat saya sadar, bahwa pendidikan dan keterampilan sangat berguna bagi orang-orang seperti saya,” katanya sambil tersenyum. Ada tiga anak yatim cacat yang kini ia asuh. Tidak banyak memang, tetapi paling tidak, ia telah berbuat sesuatu untuk sesamanya.
Satu hal yang ia syukuri, ia hanya cacat fisik, bukan cacat rohani. Cacat fisik yang ia alami tidak membuatnya jatuh terpuruk mengharap belas kasih orang lain, melainkan sebagai pelecut semangat untuk menggapai cita-cita mandiri. Kini, meski ia secara fisik tidak sempurna, tetapi ia mampu berbuat lebih. Melebihi dari apa yang bisa dilakukan oleh orang normal. “Ini semua rahasia Allah, bahwa orang cacat seperti saya, diberi kemampuan untuk membantu orang lain,” katanya.
(Suara Hidayatullah, Edisi 1/XXVI/Mei 2013/Jumadil Ahir/1434)
Artikel www.PengusahaMuslim.com

Continue reading ...
55571701 081311158735 makinov09 makinov09
 

Kontak

Phone/SMS : +6287878291603
Intagram : makinov09
Twitter : makinov09
Email : makinov@gmail.com
PIN BB : 55571701

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Blognya Arek Jepang Gang Siji

Radar EMDE

HLR Lookup

My Favourite Blog

Copyright © Emde Berusaha Design by BTDesigner | Blogger Theme by BTDesigner | Powered by Blogger