Rabu, 28 Oktober 2015

Karya Bunda

0 komentar
Tak ada rotan koran pun jadi, istilah yang tepat untuk kegiatan pemanfaatan koran bekas guna dijadikan produk anyaman yang dilakukan sejumlah komunitas. Berkreasi dan berkarya memanfaatkan barang bekas untuk didaur ulang menjadi sebuah karya yang bernilai seni dan bermanfaat.

Tumpukan Koran bekas
Produk daur ulang anyaman dari koran bekas yang dihasilkan oleh Bunda Umi Nuzliyah





Continue reading ...

Kamis, 15 Oktober 2015

10 Profesi yang Bakal Segera Menghilang (Prediksi)

0 komentar
"Jangan-jangan, profesi yang Anda jalani ini termasuk dalam daftar pekerjaan yang bakal segera sirna."
Bukan hanya produk yang bisa berhenti produksi. Profesi yang Anda tekuni sekarang ini bisa saja ditelan bumi suatu saat kelak. Satu contoh kasus sudah terbukti. Profesi sebagai tukang pos pelan-pelan mulai digerus masa. Media sosial semisal Facebook, Twitter, dan pesan elektronik (email) membunuh profesi mereka.
Data statistik tenaga kerja Amerika Serikat menyebut penerimaan pekerja di bidang pos berkurang hingga 28 persen pada 2020. Nantiny, hanya akan ada 139.100 tukang pos di seluruh Negeri Paman Sam.
Namun, bukan hanya profesi tukang pos yang bakal hilang ditelan zaman. Proyeksi outlook BLS seperti dikutip laman businessinsider, Jumat, 16 Oktober 2015, memperkirakan 15 profesi akan hilang ditelan masa:

1. Pekerja pecetakan
Berkurangnya oplah koran dan majalan membuat volume percetakan turun tajam dalam beberapa tahun terakhir. Media konvensional ini perlahan beralih ke format digital.

2. Nelayan
Berkurangnya jumlah ikan serta membaiknya peralatan memancing membuat profesi nelayan di AS pelan-pelan bakal berkurang.

3. Desktop Publisher
Profesi ini biasanya menggunakan perangkat lunak untuk mendesain layout buku, koran, dan publikasi lainnya. Lambat laun profesi ini akan digantikan oleh web designer, graphic designer, dan copy editor.

4. Operator mesin logam dan plastik
Biasanya mereka bertugas untuk mengoperasikan komputer dari mesin-mesin pembuat logam dan plastik. Namun meningkatnya teknologi, kompetisi asing, dan berubahnya permintaan dari barang-barang ini membuat profesi ini lambat laun berkurang.

5. Penilai asuransi
Profesi ini bertugas untuk menilai risiko dari calon nasabah asuransi. Namun dengan perangkat lunak, tugas menilai aplikasi nasabah mulai diambilalih.

6. Pramugari
Ini cukup mengejutkan. Namun seiring ekonomi yang semakin sulit dan tingginya permintaan nilai kontrak membuat maskapai mengurangi jumlah awak kabinnya.

7. Perangkai bunga
Profesi ini membutuhkan keahlian dan kemampuan seni untuk merangkai bunga. Namun kini, masyarakat yang membeli bunga segar perlahan-lahan mulai berkurang dibandingkan kondisi sebelumnya.

8. Penebang Kayu
Sesuai namanya, profesi ini memiliki keahlian memotong kayu di hutan belantara. Namun semakin banyak negara membatasi industri kayu bulan.

9. Agen travel
Para pekerja agen perjalanan biasanya menjual jasa penyewaan transportasi, angkut barang, dan merencanakan perjalanan. Seiring kemudahan traveler menggunakan internet untuk mencari tempat wisata, mereka bisa mem-booking perjalanan sendiri.

10. Reporter, koresponden, dan pengamat berita televisi
Informasi lokal dan internasional selama ini diperoleh melalui pandangan mata reporter. Namun seiring berkurangnya pemasukan media, lowongan kerja untuk industri ini juga mulai berkurang. (Ism)

Sumber : Dream.co.id
Continue reading ...

Kuliah WA dari pak Iwan Novarian

0 komentar
Berikut ini Kuliah WA dari pak Iwan Novarian:
Kenapa Lulusan SMP Bisa Lebih Sukses dan Lebih Makmur dibanding Lulusan S1 dan S2?
Ada anak ndeso lulusan SMP bernama Darmanto, yang kini jadi national internet expert dan berkantor dari rumahnya di desa Kranggil, Pemalang. Yang kedua, Afidz, lulusan SMP yang jadi juragan soto Lamongan dan bertekad segera mengumrohkan orang tuanya ke tanah suci.
Di sisi lain, kita acap melihat anak muda lulusan S1 bahkan S2 yang masih menganggur. Atau juga sudah bekerja namun dengan penghasilan pas-pasan. Bulan masih tanggal 9, gaji sudah habis. Pening deh kepala.
Pertanyaannya : kenapa bisa begitu? Kenapa anak lulusan SMP bisa lebih makmur dibanding lulusan S2? Sajian pagi ini akan menelisiknya dengan gurih dan merenyahkan.
Memang tak jarang kita melihat pemandangan yang paradoksal seperti itu : saat orang-orang yang hanya lulusan SMP bisa begitu sukses, sementara ribuan sarjana S1 dan bahkan S2 mengeluhkan tentang penghasilannya yang katanya tidak mencukupi. Ketika saudaranya yang masih dalam lingkup satu institusi dinaikkan sementara saudara lainnya tidak naik. Gelombang protes muncul dimana-mana. Muncul istilah-istilah yang terkadang membuat kening ini berkerenyut. Anak Tiri, Bawang Merah – Bawang Putih atau istilah lainnya yang membuat kita tersenyum sendiri.
Setidaknya ada tiga elemen kunci yang barangkali bisa menjelaskan ironi getir semacam itu. Yaitu : The Power of Kepepet , The Darkness of Gengsi dan The Magic of Street Smart.
Faktor # 1 : The Power of Kepepet.
Mungkin orang-orang lulusan SMP itu bisa sangat sukses karena faktor kepepet. Justru karena kepepet, mereka sukses. Justru karena kepepet, mereka dipaksa melakukan something yang membuat mereka bisa melenting.
Sederhana saja, ijasah mereka hanyalah lulusan SMP. Dengan ijasah SMP, perkerjaan bagus apa yang bisa diharapkan? Tak ada pilihan lain : jika mereka ingin mengubah nasib lebih makmur, pilihannya adalah melakukannya dengan jalan merintis usaha sendiri.
Mereka dipepet oleh keadaan : mau hidup miskin selamanya (karena sulit dapat kerja dengan hanya
mengandalkan ijasah SMP) atau nekad membangun usaha sendiri yang berpotensi sukses besar.
Orang dengan ijasah S1 dan S2 mungkin tidak punya faktor kepepet seperti itu : ah, santai saja toh nanti saya pasti dapat pekerjaan. Dan begitu sudah dapat pekerjaan (meski dengan gaji seadanya), tetap tidak ada “faktor yang me-mepet” dirinya : ah meski gaji segini kan saya bisa tetap hidup oke.
Pelan-pelan, perasaan semacam itu membuatnya masuk ZONA NYAMAN (COMFORT ZONE). Dan persis disitu, faktor kepepet menjadi mati. Itulah sebabnya tidak banyak PNS yang berani Resign untuk mengambil keputusan besar meraih kesuksesan YANG LEBIH BESAR. Karena COMFORT ZONE telah merasuk kedalam jiwa dan sanubarinya yang paling dalam. Jadi PNS saja sudah alhamdulillah. Gak usah neko-neko. Nggolek dunyo gak ono entek e. Nek metu juga durung karuan. Nek gak nduwe duit yo nyilih koperasi sih entuk. Bank-Bank juga gelem karo SK PNS kok. He he he he... Hidup itu pilihan. Itulah bahasa penolakan yang sering kita dengar.
Padahal seperti yang kita lihat, faktor kepepet justru yang bisa memaksa orang – bahkan lulusan SMP sekalipun –untuk melakukan something extraordinary. Kepepet karena tidak banyak pilihan mungkin bukan kutukan. Ia justru berkah terselubung yang bisa membuat orang menapak jalan kesuksesan.
Faktor # 2 : The Darkness of Gengsi.
Orang-orang lulusan SMP mungkin tidak lagi punya gengsi. Lhah cuman lulusan SMP, apa lagi yang mau dipamerkan. Namun justru karena itu mereka tidak merasa rikuh untuk memulai usaha dari bawah sebawah-bawahnya : mulai dari pemulung misalnya, sebelum pelan-pelan merangkak menjadi juragan barang bekas.
Dan kisah orang sukses lulusan SMP banyak bermula dari jalur marginal seperti itu : mulai dari jualan gerobak bakso keliling di jalanan yang berdebu hingga punya 70 cabang. Mulai dari kuli keceh sablon hingga punya pabrik kaos sendiri.
Lulusan S2 dan S2 mungkin tidak punya keberanian seperti itu. Lhah saya kan lulusan S2, masak suruh dorong gerobak soto lamongan. Lhah, masak saya harus keliling kepasar-pasar
jualan kaos, kan saya sudah sekolah S1 susah-susah,bayarnya mahal lagi. Apa kata dunia?? (Dunia ndasmu le).
Dan persis mentalitas gengsi seperti itu yang barangkali membuat banyak lulusan S1 dan S2 menjadi yah, gitu-gitu deh nasib hidupnya.
Orang lulusan SMP tidak punya mentalitas gengsi seperti itu. Mereka mau berkeringat di jalanan yang panas dan berdebu, demi merintis impiannya menjadi juragan yang makmur dan kaya.
Faktor # 3 : The Magic of Street Smart.
Orang-orang lulusan SMP yang tak punya kemewahan berupa ijasah perguruan tinggi itu, mungkin dipaksa belajar dari kerasnya kehidupan di jalanan. Dari kerja keras mereka di jalanan yang panas dan berdebu dan penuh lika liku. Dan dari kerja keras di jalanan yang berdebu itu mungkin anak lulusan SMP tadi justru bisa mengenal “ilmu street smart” – KECERDASAN JALANAN yang tak akan pernah bisa diperoleh oleh para lulusan S1 dan bahkan S2 dari ruang kuliah yang acap “berjarak dengan realitas”.
Street smart yang mereka dapatkan dari jalanan itu pelanpelan kemudian bisa membuat mereka benar-benar lebih cerdas dibanding lulusan S1 dan bahkan S1; meski Cuma lulusan SMP.
Anak lulusan SMP yang langsung berjualan gerobak soto Lamongan mungkin bisa lebih cerdas tentang “ilmu pemasaran dan manajemen pelayanan pelanggan” dibanding anak-anak lulusan S1 yang sok belajar teori tentang customer service atau branding strategy (sic!).
Street smart barangkali yang ikut menjelmakan orangorang lulusan SMP untuk merajut jalan hidup sukses yang penuh kemakmuran.
Demikianlah, tiga elemen kunci yang boleh jadi merupakan pemicu kenapa lulusan SMP bisa lebih sukses dibanding lulusan S1 dan S2 :
The Power of kepepet,
The Darkness of gengsi dan
The Magic of street smart.
Redefine your future life. Renovate your future destiny.
Selamat Pagi.
Selamat Beraktivitas.
Semoga Segala Aktivitas kita hari ini bernilai ibadah disisi Nya. Amiiiin.
‪#‎penulis‬: dwiprahoroirianto. . . .

Sumber : Facebook.com
Continue reading ...
55571701 081311158735 makinov09 makinov09
 

Kontak

Phone/SMS : +6287878291603
Intagram : makinov09
Twitter : makinov09
Email : makinov@gmail.com
PIN BB : 55571701

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Blognya Arek Jepang Gang Siji

Radar EMDE

HLR Lookup

My Favourite Blog

Copyright © Emde Berusaha Design by BTDesigner | Blogger Theme by BTDesigner | Powered by Blogger